Terkait kelumpuhan Afif Maulana, Komnas HAM terlibat dalam tiga lembaga tersebut

Uncategorized10 Dilihat

Perusahaan Tempo.CO, Jakarta – Komisioner Pengaduan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Hari Kurniawan mengatakan pihaknya akan melibatkan tiga perusahaan lain dalam pelarian tersebut. Afif Maulana, bocah lelaki berusia 13 tahun yang dikabarkan meninggal karena penganiayaan polisi di Kota Padang, Sumatera Barat. Pihak keluarga menanyakan kematiannya untuk mengetahui penyebab kematian Afif.

Hari mengatakan ketiga lembaga tersebut adalah Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia (LNHAM), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. KPAI, menurut dia, akan menjadi koordinator penghapusan ini.

“Kami juga punya dokter independen yang harus dilibatkan dalam penggalian tersebut, termasuk dokter dari PP Muhammadiyah, karena PP Muhammadiyah sudah memberikan surat kepada kami untuk terlibat dalam penggalian tersebut. Keluarga korban pun menyetujui untuk dilakukan penggalian.” Hari Kurniawan kepada Tempo hari ini, Rabu 10 Juli 2024.

Seorang warga Jembatan Kuranji, Kota Padang, menemukan jenazah Afif Maulana pada Minggu sore, 9 Juni 2024. Polisi menyebut Afif tewas karena melompat saat dikejar polisi yang berusaha menghentikan perkelahian di awal Pagi. hari Minggu pagi.

Pihak keluarga tak percaya dengan kabar tersebut setelah melihat kondisi jenazah Afif. Mereka memberitahunya tentang masalah ini LBH Padang. Hasil pemeriksaan LBH Padang menyebutkan Afif meninggal karena disiksa, bukan karena melompat. Pasalnya, di tubuh Afif terdapat bekas sepatu dewasa. LBH Padang juga mengatakan tidak ada bekas luka di tubuh Afif.

Periklanan

LBH Padang juga mengatakan, pihaknya telah mendapat bukti adanya beberapa polisi yang menangkap Afif Maulana. Selain itu, ada 18 korban lainnya yang mengaku ditangkap dan disiksa polisi.

Namun demikian, Polda Sumbar masih membantah Afif Maulana meninggal karena disiksa. Kapolda Sumbar Irjen Suharyono menegaskan Afif tewas karena melompat dari jembatan. Suharyono membantah 18 orang yang ditangkap kelompoknya mengalami penyiksaan. Katanya, itu hanya kesalahan prosedur.

Baca Juga  Bahaya memakai topi bulu saat cuaca dingin

Tingkah laku Polda Sumbar membuat keluarga tersebut meminta bantuan ke berbagai instansi, salah satunya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, agar jenazah Afif Maulana bisa digali. Hal ini dinilai penting untuk membuktikan apakah benar Afif meninggal karena melompat atau diserang.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *