Polisi Indonesia tetapkan 2 tersangka lagi dalam deportasi pengungsi Rohingya ke Aceh

Uncategorized81 Dilihat

Perusahaan Tempo.CO, JakartaPolres Banda Aceh telah mengidentifikasi dua orang lagi yang diduga melakukan penyelundupan Rohingya pengungsi di pesisir pantai Aceh Besar. Polisi sudah menangkap satu orang untuk kasus yang sama.

Dua tersangka baru tersebut adalah MAH, 22, warga negara Bangladesh, dan HB, 53, kelahiran Myanmar. Kepala Divisi Kriminal dan Kriminal Polresta Banda Aceh Kompol. kata Fadillah Aditya Pratama seperti diberitakan Di tengah-tengah27 Desember.

Awalnya, polisi menetapkan MA, 35, warga Myanmar suku Rohingya, sebagai tersangka tindak pidana migrasi 137 orang ke Indonesia. MA merupakan warga Kamp 1 Blok H-88 Kutupalum yang merupakan kamp pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Ketiga tersangka termasuk dalam 137 orang yang tiba di pantai Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar pada 10 Desember. Mereka saat ini berada di parkir bawah tanah Balai Meuseuraya Aceh (BMA) di Banda Aceh.

Polisi sangat yakin bahwa MAH dan HB membantu MA memigrasikan warga Rohingya dari Bangladesh ke Indonesia.

Sebelumnya, penyidik ​​Polres Aceh Timur juga menetapkan tiga imigran Rohingya sebagai tersangka penyelundup manusia. Mereka adalah Sajul Islam, 41 tahun, yang berprofesi sebagai nakhoda kapal; Rubis Ahmad, 42, wakil direktur; dan M Amin, 42, operator mesin kapal.

Kapolres Aceh Timur AKBP. Komisaris Andy Rahmansyah mengatakan pada 22 Desember bahwa para tersangka termasuk di antara 50 orang Rohingya yang mendarat di pantai Desa Seuneubok Baroh pada 14 Desember.

Dia mengatakan para imigran gelap tersebut melarikan diri dari kamp pengungsi di Bangladesh. Mereka akan membayar 300.000 taka atau sekitar Rp. 42 juta untuk naik kapal feri ke Indonesia.

Kukuh S. Wibowo

Pilihan Editor: Perdagangan manusia diduga terjadi pada pengungsi Rohingya yang memasuki Indonesia, kata VP

Klik di sini untuk mengakses update terkini dari Tempo dan Google News



Quoted From Many Source

Baca Juga  Macron memilih Gabriel Attal sebagai PM untuk meredam popularitas oposisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *