Menyikapi Konflik Israel – Palestina, PBNU Gelar Konferensi R20

Uncategorized139 Dilihat

Perusahaan Tempo.CO, Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU akan menyelenggarakan pertemuan internasional bertajuk “R20 International Summit of Religious Authorities” (ISORA) yang akan fokus pada peran agama dalam mengatasi kekerasan di Timur Tengah dan ancaman ketertiban internasional berdasarkan hukum dan kesepakatan.

Ketua PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan, pertemuan tersebut merupakan inisiatif yang disponsori oleh R20, sebuah organisasi keagamaan internasional menanggapi konflik yang berkembang di Jalur Gaza, Palestina dan sekitar.

“PBNU akan menyelenggarakan konferensi atau konferensi internasional dengan mengundang para tokoh agama dan tokoh agama dari berbagai belahan dunia,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No. 164, Jakarta Pusat, pada Selasa 31 Oktober 2023.

Gus Yahya menjelaskan, konferensi tersebut akan diberi nama R20 International Summit of Religious Authorities. Oleh karena itu pertemuan internasional R20 diperuntukkan bagi para pemimpin dan pemuka agama di seluruh belahan dunia, jelasnya.

Yahya C Staquf juga mengatakan, rencananya konferensi yang menjadi ajang pertemuan para pemimpin dan pemuka agama di berbagai belahan dunia ini akan digelar di Jakarta.

Insya Allah kita lakukan di Jakarta pada Senin 27 November 2023 dan nanti kita cari tahu tempatnya satu atau dua hari, kata Gus Yahya.

Kali ini PBNU akan mengundang tokoh dan tokoh agama dari seluruh dunia, khususnya yang telah mengikuti konferensi R20 sebelumnya dengan peserta sebanyak 150 orang.

Gus Yahya mengatakan pertemuan tersebut akan membahas berbagai isu terkait kekerasan di Timur Tengah, ketidakadilan, penindasan, dan ancaman terhadap sistem internasional.

“Secara khusus tema forum ini dan tema konferensi ini adalah karya keagamaan yang fokus pada mengatasi kekerasan di Timur Tengah dan mengatasi ancaman sistem internasional yang harus berdasarkan hukum dan kesepakatan,” ujarnya.

Baca Juga  Faktor yang membuat perempuan lebih rentan melakukan kekerasan, salah satunya adalah sering dianggap lemah

Periklanan

Mantan anggota Watimpres ini menambahkan, tagline klubnya adalah “Mari kita bersatu untuk mengakhiri psikologi dasar kebencian, tirani, dan kekerasan yang menimpa umat manusia.yang menyerukan persatuan dalam menghilangkan kebencian jahat, tirani dan kekerasan yang menjangkiti umat manusia.

Gus Yahya mengatakan, pihaknya mendapat dukungan dari Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) yang juga berencana membuka konferensi tersebut untuk umum.

“Saya menghadap Presiden untuk menyampaikan rencana penyelenggaraan konferensi ini dan meminta agar Presiden tertarik untuk membukanya kepada publik. Alhamdulillah dia siap, jelasnya.

Gus Yahya berharap pertemuan ini tidak menghasilkan pernyataan atau isu apa pun. Namun menurutnya, konferensi ini juga diharapkan menghasilkan kesepakatan yang jelas dan rencana bersama untuk melibatkan para pemimpin agama sebagai agen perubahan dalam mengatasi krisis kemanusiaan yang mendesak.

“Kesepakatan satu langkah dan rencana kerjasama antar agama-agama ini sebagai upaya bersama yang merupakan wujud keimanan kepada Tuhan, wujud kesetiaan terhadap prinsip-prinsip moral dan etika yang dibawa oleh berbagai agama untuk benar-benar berhasil menyelesaikan permasalahan kemanusiaan yang tak terhitung banyaknya ini. ” Dia berkata.

Pilihan Redaksi: Yenny Wahid Dukung Ganjar-Mahfud, Gus Yahya: Kalau Benar Harus Keluar dari NU

OHAN B SADIN



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *