Kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas, mempertanyakan situasi korban dan tantangannya

Uncategorized207 Dilihat

CANTIKA.COM, Jakarta – Satu dari tiga wanita di dunia ini mengalami pelecehan oleh pasangannya atau bukan pasangannya setidaknya sekali dalam hidupnya. Saat ini di Indonesia, satu dari empat perempuan usia subur pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual.

Isu kekerasan tidak berhenti di dunia, khususnya di Indonesia. Berbagai permasalahan kekerasan termasuk kekerasan fisik, psikologis, seksual, ekonomi dan bahkan perilaku berbahaya akan ditangani.

Memperingati Hari Disabilitas Internasional dan merupakan bagian dari hari ke-16 pencegahan kekerasan terhadap perempuan, PBB di Indonesia mengadakan presentasi tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan penyandang disabilitas pada tanggal 7 Desember 2023. Acara tersebut mengundang Yuni Asriyanti, Sri Nurherwati, dan Walin Hartati yang berpengalaman dalam isu perempuan dan disabilitas.

Perempuan penyandang disabilitas sebagai korban kekerasan

“Kelompok yang paling terkena dampak kekerasan adalah perempuan dan perempuan ‘buta’, seperti perempuan pengidap HIV/AIDS, perempuan minoritas, perempuan pengungsi, dan perempuan penyandang disabilitas,” jelas Yuni selaku konsultan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan perempuan. program. PBB Wanita Indonesia.

Terkait perempuan penyandang disabilitas, Ketua III Persatuan Perempuan Disabilitas Indonesia Walin Hartari mengatakan, situasi perempuan penyandang disabilitas di Indonesia masih diskriminatif karena tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan perlindungan yang berlebihan dari orang-orang di sekitar perempuan penyandang disabilitas. kecacatan.

“Tentu saja perempuan penyandang disabilitas rentan terhadap kekerasan karena kesaksian kami (penyandang disabilitas) tidak didengarkan dan diabaikan,” kata Walin.

Tantangan perempuan penyandang disabilitas

Advokat dan mitra korban kekerasan berbasis gender, Sri Nurherwati, mengatakan masih banyak tantangan yang dihadapi perempuan penyandang disabilitas ketika menjadi korban kekerasan.

Nurhe mengatakan, “Konstitusi kita belum mendukung disabilitas, sehingga kita masih terjebak dalam diskriminasi.” “Harus ada fasilitas dan peralatan yang memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas.”

Baca Juga  Ekspor migas Indonesia meningkat ke Tiongkok, menurun ke UE dan ASEAN

Nurhe menjelaskan, kini ia dan tim berupaya mendorong pemerintah memberikan keadilan bagi penyandang disabilitas, mulai dari pengaduan, penyidikan, penyidikan, hingga ke pengadilan. Padahal, penyandang disabilitas tentunya harus didukung dengan sumber daya yang memadai, termasuk penerjemah, pendamping, dan alat bantu pengajaran untuk memfasilitasi kesaksian dan penyelidikan.

“Negara masih ragu dan ragu akan kemampuannya dalam melaksanakan undang-undang ini. Padahal lembaga dan tempat tinggal penyandang disabilitas akan mulai dimasukkan dalam anggaran,” kata Nurhe maju.

Yuni menambahkan, masih sedikit yang diketahui mengenai investasi dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas. Namun masih belum ada penyaluran anggaran untuk kekerasan terhadap perempuan.

Perlunya negara dan masyarakat mengetahuinya

Baik Yuni, Walin, maupun Nurhe sepakat bahwa kesadaran negara dan masyarakat tentang keadilan yang layak bagi perempuan penyandang disabilitas sebagai korban kekerasan harus ditingkatkan karena perlu adanya perhatian lebih, terutama terkait upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan.

“Masyarakat harus tahu bahwa kesaksian perempuan penyandang disabilitas sama pentingnya dan kuatnya dengan kesaksian perempuan sebagai korban lainnya,” kata Nurhe.

Walin menambahkan, penting juga adanya edukasi dan media sosial secara terus-menerus melalui media. Ia juga berpesan kepada teman-teman penyandang disabilitas untuk berani segera melaporkan jika mengalami kekerasan, seperti 110 (polisi), 129 (layanan Kementerian Pariwisata), dan 112 (darurat). “Atau setidaknya sampaikan kepada keluarga atau komunitas Anda,” kata Walin.

Kita sebagai masyarakat juga harus mendukung lingkungan agar menjadi tempat yang aman bagi penyandang disabilitas untuk berani bekerja. Upaya penghapusan kekerasan harus dijadikan sebagai seruan bertindak untuk membangun peradaban yang adil dan setara.

Pilihan Editor: Cara menyenangkan untuk merayakan semangat kreatif para penyandang disabilitas

Baca Juga  6 Manfaat musik bagi anak, Baik untuk perkembangan otak dan apresiasi terhadap keberagaman

Hallo sahabat cantik ayo update informasi dan inspirasi untuk para wanita Telegram itu indah

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *