Di Hari AIDS Sedunia, berikut 10 tips PB IDI dalam menangani HIV/AIDS

Uncategorized96 Dilihat

Perusahaan Tempo.CO, Jakarta – Setiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Indonesia (PB IDI) memberikan 10 rekomendasi penanganan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Indonesia agar lebih efektif dan efisien.

Anggota Dewan Pertimbangan PB IDI, Prof. dr. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM, dalam talkshow online, Kamis 30 November 2023 mengatakan, rekomendasi tersebut berdasarkan pemerintah dan pemangku kepentingannya, yang disusun berdasarkan permasalahan paling umum yang dialami penderita. HIV/AIDS.

“Kita tidak melakukannya dengan baik. Sejak epidemi COVID-19, situasi HIV kini berada dalam kondisi kritis, rencana pengobatan telah berubah dan diabaikan, kemunduran telah terjadi, jumlahnya meningkat, dan banyak orang telah menghentikan pengobatan, ” jelasnya.

Rekomendasi pertama adalah pelaksanaan program terapi antiretroviral (ART) selama tiga bulan yang ditanggung oleh BPJS. Kedua, penerapan layanan pengobatan online tanpa tatap muka atau telemedis juga ditanggung oleh BPJS. Zubairi mengatakan, pada awalnya orang dengan HIV/AIDS (ODHA) harus ke puskesmas seminggu sekali hingga sebulan sekali, hal ini hanya dilakukan tiga bulan sekali jika virus sudah mencapai jumlah minimal dan terkendali. Hal ini dapat membuat pengobatan menjadi lebih baik dan mudah, sehingga mengurangi tingginya angka putus pengobatan di kalangan ODHA.

“Seringkali setelah tiga bulan, setidaknya enam bulan, jumlah virus akan bertambah setidaknya satu kali. Oleh karena itu, saat itu sudah tidak ada lagi iklan, sehingga jika tidak terdeteksi, tidak perlu datang pemeriksaan dan mendapatkan obat antiretroviral (ARV) sebulan sekali. Norma internasional diatur setiap tiga bulan sekali, kata Zubairi.

pengobatan HIV/AIDS
Selain itu, obat unik anti HIV/AIDS yang tadinya diberikan dalam bentuk kombinasi tiga obat, kini dikurangi menjadi hanya dua, yakni kombinasi dolutegravir dan lamivudine. Zubairi mengatakan, kombinasi obat ini terbukti lebih efektif dibandingkan kombinasi sebelumnya yang dapat memperburuk fungsi ginjal. Kombinasi kedua obat ARV ini juga menjadi dasar obat HIV/AIDS di berbagai negara.

Baca Juga  Kesehatan gratis bagi warga Jakarta yang mengidap ISPA, kata Puskesmas

Periklanan

Rekomendasi keempat adalah pemberian obat tuberkulosis (TBC) sebagai upaya pencegahan. ODHA diketahui lebih rentan terhadap infeksi TBC karena obat-obatan tersebut seringkali tidak memadai. Kelima, pemerintah dan lembaga terkait harus bekerja sama di media untuk menyebarkan pendidikan tentang pengobatan HIV/AIDS.

Keenam, menambah jumlah relawan untuk membantu petugas kesehatan memberikan konseling pengobatan kepada ODHA. Selain itu, pengobatan terhadap ibu hamil dan anak dengan HIV juga perlu mendapat perhatian lebih karena jumlahnya yang terus meningkat. PB IDI juga merekomendasikan agar pemerintah mengadakan hari tes HIV nasional yang masuk dalam kalender Indonesia untuk penelitian lebih lanjut.

Rekomendasi kesembilan adalah menciptakan kesempatan kerja yang adil bagi pengidap HIV/AIDS. Rasa malu tidak baik untuk dilawan ODHA Hingga saat ini, hal tersebut banyak mempengaruhi kehidupan mereka, termasuk dalam hal mencari uang. Kesimpulannya, PB IDI merekomendasikan perencanaan sosial, kepemimpinan dan kolaborasi untuk mencapai semua rekomendasi tersebut.

Oleh karena itu, untuk semua rekomendasi ini tentunya perlu adanya kesamaan pemikiran dalam negeri, koordinasi itu penting, perlu kerja sama yang lebih baik guna mencapai tujuan mengakhiri krisis AIDS pada tahun 2030, kata Zubairi. ditekankan.

Pilihan Editor: Berita Hari Ini: 5 Juni 1981 Diagnosis AIDS pertama di Amerika Serikat



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *