Apakah ada peluang beasiswa bagi penyandang disabilitas di Indonesia?

Uncategorized457 Dilihat

Perusahaan Tempo.CO, Jakarta – Menurut perkiraan World Blind Union, lebih dari 90 persen dokumen tertulis tidak dapat diakses oleh penyandang tunanetra dan tunanetra. Kondisi ini dikenal dengan istilah kelaparan.

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa meskipun ada kemajuan pesat dalam teknologi informasi, kelaparan sekolah masih terus terjadi di banyak belahan dunia, terutama di negara-negara berkembang.

https://www.undp.org/asia-pacific/blog/time-end-global-%E2%80%98book-famine%E2%80%99

Indonesia sendiri telah mendukung Perjanjian Marrakesh untuk mengakhiri literasi di seluruh dunia sejak tahun 2013. Perjanjian Marrakesh bertujuan untuk meningkatkan akses literasi bagi penyandang tunanetra.

https://worldblindunion.org/programs/marrakesh-treaty/

Pekerja Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Lansia dan Difabel, Arum Nugrahanti menjelaskan, saat ini Perpusnas telah memberikan judul buku Braille sebanyak 3.276 buku dan buku audio atau buku bersuara sebanyak 462 buku. Buku-buku tersebut antara lain biografi, fiksi, novel, buku religi, dan fiksi ilmiah. Koleksi fiksi Braille juga tersedia di Perpustakaan Nasional, seperti Dilan karya Pidi Baiq dan Bumi Umat Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Periklanan

Seringkali, menurut Arum, teman-teman penyandang disabilitas mengikuti berbagai kelompok Layanan Lanjut Usia dan Disabilitas Perpusnas. Mereka mendampingi masyarakat menggunakan kendaraan khusus, seperti TransJakarta Peduli.

Meski penyandang disabilitas bisa mendapatkan pendidikan, anggota Persatuan Tunanetra Indonesia atau Pertuni, Furqon Hidayat mengatakan, kemampuan membaca Braille atau buku audio masih terbatas. Menurutnya, membaca sesuatu yang bisa mereka peroleh secara gratis melalui internet, terkadang sistem tidak mengizinkan untuk dibaca menggunakan screen reader.

“Tentu yang dibutuhkan oleh penyandang tunanetra adalah akses terhadap buku pelajaran yang murah. Misalnya murah dari rumah atau tidak jauh,” kata Furqon, mantan Sekjen Pertuni. Furqon berterima kasih atas pelayanan yang diberikan Perpustakaan Nasional. Namun, menurutnya, tidak hanya penyandang disabilitas saja yang terkonsentrasi di wilayah sekitar sekolah. Masih banyak penyandang disabilitas yang tinggal jauh dari perpustakaan dan tidak dapat mengakses layanan tersebut dengan mudah.

Baca Juga  Mantan perwakilan media TPN Ganjar-Mahfud mengalihkan dukungan ke Prabowo-Gibran

Selain itu permasalahan lain yang muncul di kalangan teman-teman penyandang disabilitas adalah rendahnya minat membaca seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. “Penyandang tunanetra tidak dapat berpartisipasi penuh dalam pendidikan karena mengalami kesulitan dalam membaca atau tantangan lainnya,” kata Furqon. “Kedepannya semoga penyandang tunanetra dapat berpartisipasi dalam pendidikan dengan lebih bermakna.”

Di tengah-tengah
Pilihan Editor:



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *