Ahok Bicara Luka Lama Tentang Orang Berkuasa yang Menjebloskannya ke Penjara, Siapa Itu?

Uncategorized136 Dilihat

Perusahaan Tempo.CO, Jakarta – Gelar Basuki Tjahaja Purnama Menderita yang lain berbicara tentang luka lama tentang dia masuk penjara karena penistaan ​​​​agama. Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) itu menceritakan kisahnya dalam acara diskusi Eropa Bersatu: Festival Tiga Jari yang ditayangkan di kanal YouTube Ganjar Mahfud.

Dalam video yang diunggah pada 4 Februari 2024, Ahok sebelumnya menyebut ada mantan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mencoba “mengintimidasinya. Mantan kader Partai Banteng ini mengingatkan Ahok agar bisa menghitung waktu menjelang pemilu 2024.

Ahok mengungkapkan, oknum tersebut lebih memilih mendukung politikus sekaligus wakil presiden nomor dua yakni Prabowo-Gibran yang diusung Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

“Jadi kalau Anda berpikir Pak Jokowi menang 02, Anda pilih mereka. Bisa jadi CEO (Dirut PT Pertamina) dan bisa jadi menteri,” kata Ahok menirukan mantan kader PDIP itu.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini kemudian mengumumkan bahwa pada Juni 2023, dirinya didapuk menjadi CEO PT Pertamina. Namun, ia menegaskan siap meninggalkan jabatannya jika merasa Ganjar akan kalah darinya di Pilpres 2024. Ia pun memilih berjuang untuk mengalahkan Ganjar.

“Kalau kalian mengira Ganjar tidak akan kehilangan satu warna pun, kalian bisa melakukan apa saja untuk mendukung Ganjar. Katanya apa yang kalian makan, (saya) tidak perlu takut. Saya tidak perlu menyebutkan nama, Ya (ancaman) don Jangan tinggalkan PDIP,” ujarnya.

Ahok kemudian bercerita bahwa dirinya ditelepon oleh seseorang yang menyuruhnya untuk mengingat pekerjaan “orang berkuasa” yang mengangkatnya menjadi Direktur Utama PT Pertamina.

“Dia menelpon saya, ‘Kamu masih ingat pekerjaan itu lho, (kamu) adalah tawanan sebagai musafir’. Saya bilang siapa yang menjadikan saya tawanan? Dan dia yang menjadikan saya tawanan, dialah kata Ahok.

Baca Juga  Ndidit Hediprasetyo Ungkap Inspirasi Desain Jersey Tim Indonesia untuk Pertandingan Paris 2024 Karya Song Berkibarlah Benderaku

Lantas bagaimana kisah Ahok yang dipenjara karena penistaan ​​agama?

Timeline keterlibatan Ahok dalam penistaan ​​agama

Periklanan

Berdasarkan catatan Untuk waktu yang lama, Pidato Ahok diawali dari video klip pidatonya di Kepulauan Seribu pada September 2016 yang viral di dunia maya. Saat itu, Ahok berangkat ke Pulau Seribu untuk membahas sistem perkebunan kelompoknya. Namun Ahok justru menjulurkan lidahnya saat berbicara dengan mengutip ayat Alquran, Surat Al-Maidah ayat 51. Selama 40 menit pidato Ahok, muncul kontroversi terkait klip 13 detik tersebut.

“Jadi jangan percaya pada orang. Mungkin di hati kecilmu, kamu tidak bisa memilih aku kan? Itu hakmu, ya. Jadi kalau kamu merasa tidak bisa memilih, karena takut masuk neraka atau selingkuh, tidak apa-apa. Karena ini adalah panggilan pribadi, perempuan dan anak perempuan. Program ini berhasil. Ya, jadi bapak dan ibu, tidak akan merasa sedih karena tidak bisa memilih Ahok. Aku tidak suka Ahok. Tetapi jika saya menerima program tersebut, saya tidak akan menikmatinya, saya akan berhutang. Jangan lakukan itu. “Kalau sakit nanti mati pelan-pelan lho karena stroke,” kata Ahok.

Atas perbuatannya, Ahok dijerat Pasal 156a atau Pasal 156 KUHP. Dia divonis dua tahun penjara dan diperintahkan membayar Rp. 5.000.

“Basuki kami nyatakan secara sah didakwa melakukan penodaan agama. Ia telah divonis pidana selama dua tahun. Semua bukti dari kuasa hukum digabungkan, dan pembayaran hukumannya Rp 5.000,” kata Hakim Dwiarso Budi Santiarto. , pada hari Selasa, 9 Mei 2017.

Sekelompok hakim menolak membela Ahok atau tim kuasa hukumnya. Menurut salah satu hakim, pembelaan Ahok yang menyebut merujuk ayat suci Alquran karena ketidakadilan ditolak. Berdasarkan fakta tersebut, majelis hakim menilai terdakwa menimbulkan keributan karena ucapannya. Menurut salah satu hakim, layaknya gubernur, orang yang diadili harus jujur, bersih, terhormat, dan bermartabat.

Baca Juga  Australia dan Indonesia akan terlibat dalam kemitraan baru di bidang pertahanan

“Ini hanya kasus pidana dan menunjukkan merugikan agama. “Majelis hakim menilai terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan bersalah,” kata salah satu anggota juri, Selasa, 9 Mei 2017.

PUTRI RADEN

Pilihan Redaksi: Giliran Rektor Unissula Semarang yang Dikunjungi ‘Utusan’ Istana Minta Tak Kritik Jokowi



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *